Skala Gempabumi

Besar kekuatan gempa bumi biasanya diukur dengan menggunakan 3 skala, yaitu:

1.) Berdasarkan energi yang dilepaskan di pusat gempa. 

Magnitude menunjukkan besaran atau jumlah energi yang dilepaskan pada suatu pusat gempa (Hypocenter) yang dapat diukur dengan seismograf.Magnitude pertama kali didefinisikan oleh Charles Richter tahun 1935, sehingga kini dikenal sebagai skala Richter. Gempa dengan skala 3 magnitude atau lebih biasanya hampir tidak terlihat, dan gempa dengan skala magnitude 7  biasanya lebih berpotensi menyebabkan kerusakan serius di daerah yang luas, tergantung pada kedalaman gempa. Gempa bumi terbesar bersejarah besarnya telah lebih dari 9, meskipun tidak ada batasan besarnya.

Tingkatan dalam skala richterdapat dilihat sebagai berikut:

§  < 2,0   : Umumnya tak terasa, tapi terekam.

§  2,0-2,9: Getaran hampir terasa, tapi belum terasa oleh  kebanyakan orang.

§  3,0-3,9: Terasa oleh sebagian kecil orang.

§  4,0-4,9: Terasa oleh hampir semua orang.

§  5,0-5,9: Mulai menimbulkan kerusakan.

§  6,0-6,9: Menimbulkan kerusakan pada daerah padat penduduk.

§  7,0-7,9: Gempa skala besar, getaran kuat, menimbulkan kerusakan besar

§  8,0-8,9: Gempa dahsyat, getaran kuat, kehancuran dekat epicentrum.

(Asyhari, 2011)

2.) Berdasarkan tingkat kerusakan yang diakibatkan oleh gempa (efek yang terekam di lapangan)

Biasanya disebut dengan Intensity (intensitas), digunakan dalam menentukan kuatnya getaran tanah akibat suatu gempa dengan melihat respon orang atau bangunan yang terasa atau terjadi pada saat gempa berlangsung pada lokasi tertentu (Siddiq, 1999 dalam Sudibyakto, 2000).

Intensitas gempa oleh Boen (2000) kemudian dinyatakan secara sederhana, merupakan derajat kerusakan akibat gempa bumi/ intensitas maksimum yang dihasilkan oleh gempa tersebut.umumnya menggunakan skala intensitas menurut tingkat kerusakan atau yang dirasakan manusia.

Salah satu skala intensitas yang dikenal adalah MMI (Modified Mercalli Intensity) digunakan sejak tahun 1956.Meskipun demikian skala intensitas sifatnya sangat subyektif dan telah digunakan sejak sebelum ditemukan alat-alat pencatat gempa bumi.

Sedangkan tingkatan dalam skala Mercalli dapat dilihat sebagai berikut:

3.) Berdasarkan Percepatan batuan dasar maksimum / PGA (Peak Ground Acceleration)

Untuk kepentingan design bangunan, data gempa yang diperlukan adalah berupa data PGA ini. Untuk mengetahui besarnya PGA ini, bisa dihitung dari besarnya magnitude dan kedalaman gempa, kemudian dengan rumus atenuasi yang kini sudah berkembang hingga beberapa generasi. Beberapa contohrumus atenuasi diantaranya adalah sbb:

Donovan (1973)mengemukakan hubungan antara Skalla Richter (R) dengan PGA (dalam g atau cm/det^2) adalah:

PGA= 1080*e^(0.5R)*(H+25)^-1.32

Dimana H adalah jarak Hypocenter dalam km.

Sedangkan Matuschka (1980) menyatakan:

PGA= 119*e^(0.81R)*(H+25)^-1.15

Dimana H adalah jarak Hypocenter dalam km.

 

Berdasarkan catatan gempa dari accelerograph, dan besarnya PGA ini bisa dibuat spectrum respon yang nantinya akan digunakan sebagai bahan evaluasi kekuatan bangunan terhadap gempa bumi. Dimana setiap gempa di setiap lokasi akan memiliki spektrum respon yang berbeda.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: