Parameter Gempabumi

Parameter Gempa bumi menurut Boen (2000) dalam Sudibyakto (2000) biasanya digambarkan dengan tanggal terjadinya, waktu terjadinya, koordinat episenter (dinyatakan dengan koordinat garis lintang dan garis bujur), kedalaman Hiposenter, Magnitude, dan intensitas gempabumi.

1.) Epicentrum

Epicentrum (epicentre) adalah hasil proyeksi hiposenter ke permukaan bumi, atau dapat disebut juga sebagai titik di permukaan bumi yang didapat dengan menarik garis melalui fokus tegak lurus pada permukaan bumi.tempat di permukaan bumi yang letaknya terdekat terhadap hipocentrum.Letak epicentrum tegak lurus terhadap hipocentrum, dan sekitar daerah ini pada umumnya merupakan wilayah yang paling besar merasakan getaran gempabumi.Daerah sekitar epicentrum yang terhebat menderita kerusakan akibat gempabumi dinamakan macroseisme yang dibatasi oleh suatu garis yang disebut pleistosiste.

2.) Hipocentrum

Hipocentrum (hypocentre) adalah pusat gempabumi, yaitu tempat terjadinya perubahan lapisan batuan atau dislokasi di dalam bumi sehingga menimbulkan gempabumi. Howell (1969) telah membagi jenis-jenis gempabumi berdasarkan kedalaman hipocentrumnya, yaitu :

a. Gempabumi dangkal (normal), pusatnya < 70 km.

b. Gempabumi sedang (intermedier), pusatnya 70 – 300 km.

c. Gempabumi dalam, pusatnya 300 – 700 km.

Kebanyakan gempabumi yang terjadi pusatnya terletak dekat permukaan bumi pada kedalaman rata-rata 25 kilo meter, dan berangsur ke bawah tidak lebih dari 700 km. Gempabumi dangkal cenderung lebih kuat dari pada gempabumi dalam, oleh sebab itu gempabumi dangkal lebih banyak menyebabkan kerusakan. Getaran yang terjadi di hipocentrum merambat ke permukaan bumi dengan dua macam gelaombang, yaitu :

a. Gelombang longitudinal, atau gelombang primer (P) dengan kecepatan rambat 7,5 – 14 km/detik. Gerakannya searah dengan sumber getaran.

b. Gelombang transversal, atau gelombang sekunder (S) dengan kecepatan rambat 3,5 – 7  km/detik. Gerakannya tegak lurus terhadap sumber getaran, bersifat merusak.

Bila hiposentrum terletak di dasar laut maka getaran gempabumi yang terjadi dapat menimbulkan gelombang air pasang yang sangat besar dengan ketinggian mencapai puluhan meter. Gelombang air laut yang besar seperti ini dinamakan tsunami, bersifat sangat merusak dan dapat memporak-porandakan segala sesuatu yang diterjangnya di tepi pantai

 

Gambar 1 Titik hiposentrum pada lapisan bumi

Apabila hiposentrum terletak didasar laut maka getaran gempabumi yang terjadi dapat menimbulkan gelombang air pasang yang sangat besar dengan ketinggian mencapai puluhan meter.Gelombang air laut yang besar seperti ini dinamakan tsunami, bersifat sangat merusak dan dapat memporak-porandakan segala sesuatu yang diterjangnya di tepi pantai.

Tempat-tempat di permukaan bumi yang berjarak sama terhadap hipocentrum akan merasakan getaran gempabumi pada saat yang bersamaan. Garis-garis khayal yang menghubungkan tempat-tempat di permukaan bumi yang merasakan getaran gempabumi pada saat yang sama disebut homoseiste. Sedangkan garis-garis yang menghubungkan tempat-tempat yang merasakan kekuatan gempanya sama, dinamakan isoseismik atau isoseisme.

3.)    Intensitas Gempabumi

Intensitas gempabumi adalah cerminan pengaruh goncangan gempabumi terhadap tingkat kerusakan sarana dan prasarana.Beberapa faktor yang mempengaruhi rusaknya sarana dan prasarana adalah rekayasa bangunan, jarak dari pusat gempa dan sifat batuan.Besarnya intensitas atau kekuatan gempabumi diukur dengan suatu alat yang dinamakan seismograf.Data hasil catatan seismograf yang berupa grafik dinamakan seismogram.Skala Richter atau Richter Magnitude adalah metoda kira-kira untuk menentukan besarnya energi yang dilepaskan di pusat gempabumi. Perkiraan tersebut diformulasikan sebagai berikut :

 Log E  =  11,4 + 1,5 M

dimana : E   =  energi (erg)  M  =  Richter magnitude.

Indeks seismisitas juga dapat diartikan sebagai harga yang menggambarkan jumlah total event gempa yang terjadi dalam waktu satu tahun dengan magnitudo lebih besar dari magnitude M0pada suatu daerah pengamatan.

Harga indeks seismisitas :

Log N1 (M M0) = a1 – bM0

bila kedua persamaan tersebut kita invers log maka didapat :

N1 (M M0) = 10(a1-bMo)

dengan :

a1 = a‘ – log Δt

a‘ = a – log (b ln 10)

maka dapat diperoleh indeks seismisitas :

N1 (M M0) = 10(a-log(b ln 10)-log Δt)-bMo

(Rusdin, 2009)

Keterangan :

N (M M0)       = indeks seismisitas untuk magnitudo M M0

adan b               = konstanta hubungan frekuensi -magnitudo

M                        = magnitudo

Δt                       = interval waktu pengamatan

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: